Home > Zero Ground > Sebuah Cerita Tidak Sedih Di Hari yang Benar Minggu

Sebuah Cerita Tidak Sedih Di Hari yang Benar Minggu

Sebuah cerita yang bukan fiksi ilmiah

Hari itu, hari Minggu, hari Minggu yang mendung-mendung cerah. Seperti biasa saya terbangun di waktu yang tak sopan jika dibilang pagi, seperti biasa saya bangun dengan malas, dan seperti biasa pula saya pipis berdiri. Itu hari yang biasa, biasalah jika saya lalu menonton TV, menertawakan animasi penguin-penguin itu, tertawa keras-keras tanpa harus ada perasaan yang tersakiti, betapa mulianya kamu TV. Itu pukul 8 (delapan, kalau kamu mau saya tulis dengan huruf), saya tidak punya rencana, Tuhan sudah buat untuk saya. itu pukul 9 (perlukah saya tulis dengan huruf? Sembilan, puaskah kamu?) kurang, Papa pulang, Papa itu ayah saya, suami dari ibu saya, yang saya sebut Mama, ah, Papa pulang dari rumah Eyang, itu orang tua dari ayah saya. Kami sekeluarga, itu maksudnya saya, ayah saya, dan ibu saya, sarapan bersama, tapi tidak kakak saya, dia tidak di rumah, dia di sana, di Jakarta, seandainya dia di rumah. Berbincang ringan, bertukar cerita, bertanya-tanya, berjawab-jawab. “Sebenarnya anaknya tante itu disukai temannya, tapi teman sekantor, kalau kerja di bank berarti satu harus keluar”, itu ibu saya cerita. “bukannya tergantung kantornya juga?”, itu saya. “tergantung kebijakan kantornya”, timpal ayah saya. “hmmm…iyalah tidak boleh, satu saja repot apalagi punya pacar sekantor”, saya bicara sambil mengunyah. Ibu tertawa, ayah berlalu,”terserah kamulah”. Itu tadi Ayah berkata dalam bahasa Jawa, tapi sudah saya terjemahkan, kan kita orang Endonesya.

Di jalan untuk menatap masa depan

Ayah ibu pergi, menjenguk orang sakit, saya tidak ikut, tidak perlu kata mereka. Lagipula saya ingin menjemput dia, dia pacar saya. Perlukah saya katakan kalau pacar saya cantik? Saya kira tidak perlu, biar kamu yang pria tidak sirik, nanti kamu dosa, nanti saya dosa juga bikin kamu sirik. Saya kirim SMS,”Jemput jam 1 kan?”.”agak ditelatin juga tidak apa-apa”, itu dia balas. Saya disuruh telat, bukannya harusnya kita itu tepat waktu? itu jam 12 lebih saya keluar dari rumah, mengenakan sweater warna merah marun, memakai sepatu berwarna coklat, mengendarai sepeda motor matic berwarna merah. Sembari jalan, saya melihat ke atas, ke langit, mendung, abu-abu. Itu dia jalan ramai, saya melewati jalan dimana para orang-orang (harusnya cuma para orang atau orang-orang saja, tapi saya malas merubahnya, menghabiskan waktu saja) menjual mobil mereka. Sepanjang jalan itu ada yang butuh mobil, ada yang butuh uang, ada juga yang cuma butuh lewat itu jalan. Itu ada Lancer, itu nama mobil, mobil yang bagus, saya menyukainya, saya ingat, saya bawa uang, delapan puluh tujuh ribu rupiah, saya berlalu. Sungguh, itu mobil yang bagus.

Hidup bukan rencana, hidup adalah tindakan

Saya menepi, sengaja saya. Ke sebuah mini market, sebuah swalayan, di tepi jalan. Saya masuk, melihat-lihat, mengambil 2 botol, yang isinya air, yang isinya teh. Saya ke Kasir, mau bayar, dia tersenyum, dia bertanya,”ada yang lain?”.”tidak”, saya jawab, saya pacar setia, tidak perlu ada yang lain, satu saja cukup, tidak sopan sekali kasir itu. “tiga ribu tujuh ratus”, kasir itu membungkus belanjaan saya. Saya memberikan uang 4 ribu sembari berkata,”tidak usah pakai plastik”. Kasir itu menerima uang saya, dia percaya sama saya, dia tidak meraba, menerawang, mengendus-endus uang yang saya berikan. Terima kasih wanita penjaga kasir, kamu begitu percaya dengan saya, percayakah kamu pada Tuhan? “terima kasih”, itu dia bilang sambil memberikan uang kembalian. Saya jawab,”terima kasih”. Saya Keluar dari dalam toko, memasukkan dua botol minuman yang sudah menjadi hak saya ke dalam tas saya, menghampiri sepeda motor matic warna merah, menaikinya, menyalakan mesinnya, lalu mengendarainya. Melihat ke atas, ke langit, mendung, abu-abu. Semoga dia haus, saya berkata dalam hati. Dia pacar saya.

Lalu di persimpangan kita berpisah

Siapa itu? Saya tidak kenal. Saya bunyikan klakson motor. Sungguh, saya tidak kenal. lalu kita berlalu.

ttd
furiku88

Advertisements
  1. May 18, 2010 at 11:14 am

    no junk

  2. May 18, 2010 at 1:06 pm

    hahaha….seperti biasanya…….Lotek atu bang…..(jadi inget waktu di masjid PLN saat perjalanan ke makam haji….berkat kamu saya tau lotek itu apa >.<)

  3. TQ
    May 18, 2010 at 9:03 pm

    Pidi Baiq effect, huh?! :p
    Wuf you, King!

  4. lilikadinugroho
    May 21, 2010 at 3:17 pm

    mahir actionscript diq??

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: