Home > Zero Ground > Saya, Dia, dan Sarang Laba-Laba

Saya, Dia, dan Sarang Laba-Laba

*Diambil dari postingan saya di akun yahoo meme saya*

Are you reading this?

Sebelum saya tidur, saya menatap langit-langit kamar. Terlihat begitu sepi. Ada laba-laba dan sarangnya, tapi begitu sepi. Memori lampau bergulir.

“Saya tahu itu, saya tahu kalau saya bukan orang yang sabar. Kamu juga, kamu juga tahu maksudnya. Lalu bagaimana kita bisa bersama selama ini? Saya tidak tahu. Tapi yang kita tahu saat itu adalah kita tetap bersama dan itu cukup.”

Saya memiringkan tubuh, seakan-akan bisa membenarkan posisi pikiran saya. Menutup mata.

“Bukankah kita begitu kuat? Lalu kenapa kita begitu lemah ketika bersama? Lalu kenapa kita menunggu? Menunggu saat dimana kita tidak sanggup lagi bertahan. Menunggu ketika kita tak sanggup lagi menunggu.”

Saya bangun dari tempat tidur, mencari kacamata, memakainya, seakan kamu tahu caranya, saya tidak akan menjelaskan bagaimana caranya. Lalu duduk, lalu menyalakan komputer, lalu menunggu.

“Sudah cukup, kita terlalu sering menyakiti atas nama rasa. Rasa itu sudah tidak cukup. Tidak cukup untuk saya, tidak cukup untuk kamu. Cukup, sudah cukup bagi rasa itu.”

Komputer menyala, siap digunakan. Tangan saya beranjak menuju mouse. Itu bukan tikus, sungguh.

“Dan rasa itu meredup. Cukup redup untuk membuat kita merasa nyaman kembali.”

Kamar kos bukan kamar mandi, 22092010

ttd

furiku88

Advertisements
Categories: Zero Ground Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: