Home > Zero Ground > Bukan 1000 Candi

Bukan 1000 Candi

At Last Officially New Post!

Hi! Apa kabar? Jangan dijawab, saya nanti harus berpura mengerti akan keadaan kamu, berpura-pura simpati, berpura-pura menjawab bahwa saya mengerti yang kamu alami, padahal tidak. Jadi saya tahu kamu tidak bertanya tapi saya akan mengatakan bahwa saya dalam keadaan yang baik-baik saja. Janganlah kamu katakan siapa yang bertanya mengenai keadaan saya, bukankah tadi saya sudah jelaskan?

Iya, saya sudah lama tidak memperbaharui blog ini. Tapi untuk apalah saya minta maaf, saya tidak bersalah, maka kamu jangan menyalahkan saya. Saya menulis, kamu membaca, kucing mengeong, anjing menggonggong, tak usahlah kita besarkan masalah ini.

Kantor yang Berulang Tahun

Saya akan bercerita seakan-akan kamu harus mengetahui cerita ini. 14 Desember 2011, itu tanggal, itu bulan, itu tahun cerita ini bermula. Saya masih menikmati pelatihan saya di kantor ini. Kenapa nikmat? Kenapa tidak? Ah, tidak penting. Lalu itu si Eli, lalu itu teman saya di kantor memanggil saya. Seakan saya perlu melihat lambaian tangannya, maka saya hampiri. Lalu tragedi dimulai. Oh iya, ini fiktif kok, jangan diambil hati.

Eli : Dik! (bukan singkatan dari adik tapi Dikki(Ini bukan suara hati dari Eli, cuma penjelasan(maka jangan lanjutkan membaca keterangan ini lebih lanjut(dibilang jangan!(Ih! Keras Kepala!)))))

Saya : Guk! Guk! (Oh! Salah! Bukan di kehidupan ini(Kalau yang ini suara hati saya(Tapi setelah itu penjelasan(Kenapa sih ini banyak tanda kurung!)))) Ya?

Eli : Kita(Merujuk pada teman-teman kantor lainnya(ini adalah….ah sudahlah)) sedang mempersiapkan ruangan untuk dihias.

Saya : Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan hati Ruangan sehingga dia sekarang perlu dirias?

Eli : …

Saya : lalu?

Eli : Kamu kan bisa bikin gambar tuh. Seperti yang di mejamu itu.

Itu meja saya sepertinya

Saya : terus?

Eli : Nah, kita berencana untuk menempel gambar teman-teman satu bagian di dinding.

Saya : Dan?

Eli : Kamu buatin ya!

Saya : Bisa. Buat kapan?

Eli : Besok.

Saya : BESOK!?

Eli : Iya.

Saya : Uuh oke, bagian kita berapa orangnya?

Eli : Dua puluh empat.

Saya : DUA PULUH EMPAT! DUWA PWULUH WEMPA…..THIS IS SPARTAAAAAAAH!!!

Sutradara : Cut! Dikki! Nggak ada adegan kamu nendang Eli ke sumur kematian di sini! Ulangi adegan tadi.

~

Eli : Dua puluh empat.

Saya : HAH!

Eli : SIP!


Oh, om Ebiet! Nyanyikanlah lagumu! Katakan bahwa perjalanan ini sangat menyedihkan!

Jadi saya mulai membuatnya. Saya mulai mencari gaya yang pas untuk bisa menggambarkan anggota bagian kami biar mirip dan dalam waktu yang cepat.

Oh kalian pasti bertanya-tanya apa motivas saya melaksanakan titah ini tanpa ada imbalan Roro Jonggrang yang bisa dinikahi. Tapi percayalah kawan “Roro Jonggrang” itu ada! Dalam bentuk lain, dalam bentuk film yang saya minta untuk di-download-kan oleh teman saya dan jika saya ingin mendapatkan film itu saya harus menyelesaikan titah menggambar 24 wajah.

Kembali ke masalah teknis, saya akhirnya memilih untuk melakukan trace untuk mempercepat pekerjaan saya. Sebelum itu saya harus mencari “mouse”.

Saya : Eh Ryan

Ryan : Ya?

Saya : Bawa mouse nggak?

Ryan : Enggak.

-Om Ebiet! Suaranya mana!?-

Saya : Eh, Deni!

Deni : Ya?

Saya : Bawa mouse?

Deni : Hmm…nggak.

-Om Ebiet…sekali lagi-

Saya : Jul! Bawa Mouse?

Jul : Ada sih tapi punya kantor yang lama, scroll-nya rusak.

Saya : PINJAM!

Dan sayapun memulai membuat ilustrasi dari 24 teman saya.

24 plus saya

Dan Akhirnya

Bagai Pangeran Bandung Bondowoso, sayapun berhasil menyelesaikan ke 24 wajah teman-teman yang saya tentu saja menjadi 25 karena saya juga termasuk di dalamnya. Filmpun berhasil saya dapatkan, dan ilustrasinyapun tidak jadi dipajang…

Ah, tapi bukankah saya berhasil menyelesaikan ke 24+saya wajah itu dalam waktu kurang dari 24 jam? Bukankah saya mendapat film yang saya inginkan? Iya sih tidak jadi dipajang, tapi bukankah saya mendapatkan yang saya inginkan?

Hai Pangeran Bondowoso, jika kamu mendapatkan Roro Jonggrang, apakah kamu akan melupakan candi-candi yang kau buat? Apakah kamu akan membiarkan candi-candimu lenyap begitu saja ketika benar kamu mendapatkan sang putri?

Apakah hanya Roro Jonggrang yang kamu pikirkan ketika kamu membuat candi-candi itu?

ttd

Dikki Mahasati

Advertisements
  1. December 16, 2011 at 9:00 am

    mantap, lanjutkan ilustrator!

  2. December 16, 2011 at 2:13 pm

    dipajang Dik, seenggaknya di profpic masing2 😛

  3. December 20, 2011 at 4:24 pm

    Wokokokoo…Jangan bermuram durja dik dikki..
    kan sudah saya bayar dengan film sebesar 1,4 GB.. 😛

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: