Home > Zero Ground > Sometimes I Wished I Never Even Made This Blog

Sometimes I Wished I Never Even Made This Blog

Hai, iya, hai. Setelah sekian lama saya tidak mengupdate blog ini hanya kata “hai” yang terpikirkan oleh saya untuk memulai entah apa yang akan saya tulis di blog ini.

Kalau kalian berpikir saya sibuk sehingga tidak mengupdate blog ini, kalian tidak begitu salah. Komik Furi dan Giek pun terpaksa memasuki masa hiatus yang entah saya sendiri tidak yakin bisa melanjutkannya atau tidak. Tapi jangan khawatir, sekarang saya punya akun instagram (dikkimahasati) jika tertarik dengan doodle-doodle saya. Tapi bukan ini yang ingin saya tulis di kesempatan kali ini.

Ini saya di kantor, menunggu program laporan yang memakan watu untuk menghasilkan laporan, dan saya masih harus melakukan pengubahan. Saya merasa bosan, cukup bosan dengan segala rutinitas dan saya melakukan kesalahan. Saya membuka kembali arsip-arsip postingan blog lama saya.

Lalu saya melihatnya, saya melihat saya di waktu itu. Saya yang mungkin akan benci bertemu dengan saya di masa ini, dan saya yang akan saya benci jika bertemu di saat itu. Saya seakan melihat orang lain. Orang yang berbeda dengan kerangka yang sama. Tentu saya masih melihat diri saya di dia(saya di masa lalu) tapi dalam waktu yang sama saya tidak mengenal diri saya di masa ini. Saya terjebak dalam pemikiran yang sungguh, saat ini perlu saya gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan saya.

Apa yang membedakan saya sekarang dengan saya yang dulu? Saya tidak yakin, saya cuma merasa saya yang sekarang lebih “simple”. Saya semakin menikmati kesederhanaan. Seperti doodle yang saya buat jika ada kesempatan, saya lebih merasa bebas dalam goresan-goresan dan bentuk-bentuk yang sederhana.

….

Kalian berpikir hanya itu yang saya tulis? Tidak! Tentu tidak. Ada hal yang sangat ingin saya buang dari diri saya saat ini yang berkenaan dengan diri saya di masa lalu.

Memori Tentang Dia

I cursed this blog! Karena dengan membacanya saya tahu saya pernah merasa nyaman bersama dengan orang lain. Mempercayakan hari esok seakan semua akan baik-baik saja selama dia ada di sisi. I cursed this blog for replaying the sweetest and the worst of my memory about what we called love. Saya sampai berharap saya tidak pernah menuliskannya di blog ini, atau saya berharap saya tidak pernah bertemu dengan dia? Saya tidak tahu. Saya tidak akan bilang kalau itu adalah sepenuhnya salah, tapi di sisi lain saya hanya ingin menjadi lupa. Bukan terhadap dia yang menimbulkan rasa ini, tapi terhadap rasa itu sendiri.

ttd

Dikki Mahasati

Advertisements
Categories: Zero Ground
  1. September 10, 2012 at 10:59 pm

    Hai Furi,

    Belum pernah ada di tempatmu, cuman ada yang bilang kalau berusaha melupakan itu terlalu mainstream, radikal, konfrontatif (buset bahasanya). Mungkin dgn berdamai rasanya jauh lebih baik.

    Lagipula kita gak akan kenal manis, sebelum ngerasa pahit toh?

    Ps: saya fans berat gambar-gambarmu..
    Pss: yang terakhir tadi sih komen berbayar. Invoice menyusul.

    • September 11, 2012 at 12:17 am

      Selamat datang mas Bim, anggap saja rumah sendiri *sapu-sapu sarang laba-laba*.

      Ah, berdamai. Saya akan coba itu. Terima kasih.

  2. Ardi
    September 16, 2012 at 7:24 am

    Ah, ternyata kau pun memiliki memori itu ya. Kirain, poreper elon. Hehe, peace.
    Betul bung Furi, melupakan itu malah sulit.
    Yg baik di simpan, yg buruknya ya dijadikan pembelajaran. Klise ya, tapi itu lebih menenangkan hati.

    ~terima jasa konsultasi hati. Harga bersahabat~

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: