Home > Zero Ground > Kenapa Menggambar Saja Tidak Cukup

Kenapa Menggambar Saja Tidak Cukup

Hai, sudah lama tidak bertemu. Untuk kesempatan kali ini saya menulis blog ini untuk membantu teman saya yang saat ini bekerja mengajar adik-adik kita. Well, di Sabtu siang itu, dikala saya tidak ingin melakukan sesuatu dan hanya ingin tidur di kasur seharian saya dikejutkan dengan sebuah sapaan yang tidak saya kira. Namanya Sekar, pacarnya Ipang, semoga masih pacarnya karena layar HP-nya Ipang masih ada gambarnya Sekar. Nah Ipang ini teman sekantor saya. Nah mereka berdua ini dulu teman kuliah saya satu angkatan di bawah saya. Nah Sekar ini sekarang mengikuti program yang dinamakan pengajar muda. Nah mereka berdua ini pacaran sejak saya masih berkuliah…ah, sudahlah, janganlah kita bergosip, mereka bukan artis.

Pada Sabtu siang itu, sebuah sapaan dilayangkan oleh Sekar, pacarnya Ipang, teman kuliah saya, salah satu pengajar muda (tolong kamu ingat karena saya malas menuliskannya berulang-ulang), dan dia ingin meminta tolong kepada saya. Ah, apakah dia meminta saya untuk memata-matai Ipang? Ya ampun, saya berprasangka buruk, ternyata dia meminta tolong mengenai salah satu muridnya yang katanya serupa dengan saya. Iya, muridnya, haruskah saya ulangi kalau Sekar adalah salah seorang pengajar muda? Ah kamukan sudah saya suruh mengingat. Jadi, kenapa Sekar meminta tolong kepada saya soal muridnya? Usut punya usut yang diterangkan oleh rangkaian pesan singkat dari Sekar bahwa seorang muridnya ini sungguh “nyeni”, dan dibesarkan oleh keluarga yang punya darah “nyeni”, walau saya sampai saat ini tidak begitu yakin apa yang dimaksud sebenarnya dengan kata “nyeni” ini. Tapi kata Sekar, itu teman saya yang sedang kita bicarakan ini, anak ini pintar dan suka sekali menggambar, masalahnya di lingkungan di mana sekolah masih dianggap sesuatu hal yang mewah dan aneh, anak ini kurang termotivasi untuk sekolah (Oke, sekarang saya mengerti kenapa dia bilang serupa dengan saya. Saya juga jarang termotivasi untuk belajar dan sekolah). Well, saya juga tidak tahu bagaimana cara memotivasi. Saya bukan Mario Teguh, bahkan kalau dipikir saya juga perlu motivasi agar semangat setiap hari ke kantor atau bekerja. Tapi yang saya tahu, pendidikan sangatlah penting. Saya cuma bisa menyarankan agar menghubungkan yang anak ini sukai dengan pelajaran yang bisa dia terapkan. Anak ini suka menggambar, jadi kenapa tidak menggunakan hal itu.

Saya sangat suka menggambar, dan perlu kamu tahu, bahwa orang-orang yang menggambar ternyata bisa frustasi juga. Kenapa? Simpel, karena otak kita membohongi kita. Pernahkah kamu mengatakan kepada seseorang,”Ah gitu aja sih mudah”, lalu ternyata kamu mengalami kesulitan melakukannya, dan kamu mengatakan “ternyata susah juga ya”. Nah dalam menggambar di sinilah otak kita membohongi kita, kita bisa membayangkan apa yang ingin kita gambar, otak kita seakan tahu apa yang ingin kita gambar, tapi kenyataannya kita tidak tahu detil dan apa yang harus kita torehkan di kertas agar sesuai dengan imajinasi kita. Lalu apa hubungannya dengan belajar? Justru di sinilah pentingnya belajar! Dengan belajar kita mulai mengaitkan imajinasi kita dengan kenyataan, dengan belajar kita menambah wawasan kita, melatih imajinasi kita. Belajar membuat kita lebih gampang melihat imajinasi kita. Ketika awal menggambar saya sangat suka sekali hanya mengandalkan imajinasi, tapi akhirnya saya marah sendiri, gambar saya tidak sesuai imajinasi, karena pikiran saya menolak gambar yang saya buat. Saya tidak suka menggambar dengan meniru gambar orang lain, saya lebih suka mengambil langsung dari foto nyata atau benda langsung atau dari konsep yang baru. Tapi imajinasi saya selalu terbatas oleh hal-hal yang tidak saya ketahui. Saya menjadi semakin tertarik dengan objek yang akan saya gambar, ada saat-saat saya tertarik dengan menggambar serigala, dan ternyata dengan mengetahui anatomi, alam dan cara hidup serigala saya jadi lebih mudah membuat serigala. Karena mengetahui hal-hal itu saya jadi lebih mudah berimajinasi, dan lebih mudah menerapkannya ke dalam kertas. Apalagi saya dulu mempunyai teman-teman arsitek yang luar biasa. Di situ saya paham, menggambar ternyata bukan hanya goresan di atas kertas saja. Apa gunanya jika seseorang bisa membuat gedung bertingkat tapi tidak ada seorangpun bisa masuk karena tidak ada pondasi dan tiang penyangga? Kompleks? Rumit? Iya, tapi menyenangkan. Di situlah proses yang menyenangkan dari menggambar, dari mengetahui apa saja yang kamu kuasai ketika menggambar.

Jadi kenapa membatasi diri? Belajarlah, dengan belajar kamu bisa melihat dunia dengan lebih luas, imajinasimu tak terkungkung oleh cuma apa yang terlihat, tapi kamu mulai bisa melihat fungsi dari yang kamu lihat, perhitungan, komposisi, dan itu membuat semua menjadi menarik. Saya benar-benar bukan motivator terbaik yang pernah ada. Tapi, ketika saya mulai belajar saya mulai menggambar dengan cara yang berbeda dan saya menyukainya.

 

NB : Saya hanya mampu membuat sebuah komikstrip sederhana untuk membantu memotivasi anak ini di sini.

ttd

Dikki Mahasati

Advertisements
Categories: Zero Ground
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: